Selasa, 01 Maret 2011

Standar Operasional Prosedur (SOP) Gawat Darurat Bagian II

1.      Pemasangan Neck Collar
a.       Pengertian
Adalah memasangn alat neck collar untuk immobilisasi leher (mempertahankan tulang servikal)
b.      Tujuan
1.      Mencegah pergerakan tulang serviks yang patah
2.      Mencegah bertambahnya kerusakan tulang serviks dan spinal cord
3.      Mengurangi rasa sakit
c.       Indikasi
1.      Pasien cedera kepala disertai dengan penurunan kesadaran
2.      Adanya jejas daerah klavikula ke arah cranial
3.      Biomekanika trauma yang mendukung
4.      Patah tulang leher
d.      Persiapan
-          Alat
1.      Neck collar sesuai ukuran
2.      Handscoen
-          Pasien
1.      Informed consent
2.      Berikan penjelasan tentagn tindakan yang akan dilakukan
3.      Posisi pasien terlentang dengan posisi leher segaris / anatomi
-          Petugas
2 orang
e.       Pelaksanaan
1.      Petugas menggunakan masker, handscoen
2.      Pegang kepala dengan cara satu tangan memegang bagian kanan kepala mulai dari mandibula ke arah temporal, demikian juga bagian sebelah kiri dengan tangan yang lain dan cara yang sama
3.      Petugas lainnya memasukkan neck collar secara perlahan ke bagian belakang leher dengan sedikit melewati leher
4.      Letakkan bagian Neck collar yang berlekuk tepat pada dagu
5.      Rekatkan 2 sisi neck collar satu sama lain
f.       Hal-hal yang perlu diperhatikan
1.      Catat seluruh tindakan yang dilakukan dan respons pasien
2.      Pemasangan jangan terlalu kuat atau terlalu longgar






2.      Memasang Bidai
a.       Pengertian
Memasang bidai adalah memasang alat untuk immobilisasi (mempertahankan kedudukan tulang)
b.      Tujuan
1.      Mencegah pergerakan tulang yang patah.
2.      Mencegah bertambahnya perlukaan pada patah tulang
3.      Mengurangi rasa sakit
4.      Mengistirahatkan daerah patah tulang
c.       Indikasi
Patah tulang terbuka / tertutup
d.      Persiapan
1.      Alat
a)      Alat pelindung diri (masker, handscoen)
b)      Bidan dengan ukuran sesuai kebutuhan
c)      Verband/ mitella
2.      Pasien
a)      Diberi penjelasan tentang tindakan yang akan dilakukan
b)      Posisi pasien diatur sesuai kebutuhan
3.      Lingkungan
4.      petugas
lebih dari satu orang
e.       Pelaksanaan
1.      Petugas menggunakan masker, handscoen
2.      Petugas I mengangkat daerah yang akan dipasang bidai
3.      Petugas II meletakkan bidai melewati persendian anggota gerak
4.      Jumlah dan ukuran bidai yanng dipakai disesuaikan dengan lokasi patah tulang
5.      Petugas I mempertahankan posisi, sementara petugas II mengikat bidai
6.      Cara pengikatan (lihat lampiran)
7.      Mengatur posisi pasien
8.      Mencatat dalam catatan perawat
f.       Hal-hal yang perlu diperhatikan
1.      Respons / keluhan pasien
2.      Observasi tekanan darah, nadi pernafasan
3.      Pengikatan tidak boleh terlalu kencang/terlalu longgar
4.      Observasi vaskularisasi darah distal
3.      Memberikan suntikan insulin
a.       Pengertian
Suatu kegiatan memasukkan obat insulin ke dalam jaringan tubuh melalui suntikan subcutan dan khusus untuk ketoasidosis melalui suntikan intra vena
b.      Tujuan
Untuk mengendalikan kadar gula di dalam tubuh
c.       Indikasi
Semua pasien dengan peningkatan gula darah.
Tindakan pemberian insulin dengan cara :
1.      Melalui intra vena
a.       Persiapan
1)      Alat/obat
a)      Persiapan pemasangan infus
b)      Three ways stop cock
c)      Microdrip
d)     Obat insulin
2)      Pasien
a)      Pasien diberikan penjelasan tentang tindakan yang akan dilakukan
b)      Posisi pasien diatur sesuai dengan kebutuhan
3)      Lingkungan
4)      Petugas

b.      Pelaksanaan pemberian perdrip/IV
1)      Memasang infus sesuai program
2)      Mendesinfeksi karet penutup obat insulin
3)      Mengisi semprit dengan insulin sesuai dosis yang telah ditentukan
4)      Mengeluarkan udara dari dalam semprit
5)      Mendesinfeksi three way, bila pemberian dengan cara bolus atau karet microdrip, bila pemberian obat perdrip
6)      Memasukkan obat insulin dengan cara :
a)      Bila pemberian perdrip saluran bolus ditutup, bila pemberian secara bolus saluran perdrip ditutup
b)      Mengatur tetesan infus sesuai program
c.       Hal-hal yang perlu diperhatikan
1)      Dosis dan waktu pemberian harus tepat
2)      Observasi tekanan darah, nadi, suhu dan pernafasan
3)      Memantau pola darah sesuai protap
4)      Mencatat reaksi pasien
2.      Melalui subcutan
a.       Persiapan
1)      Alat/obat
a)      Bak spuit berisi semprit insulin dengan jarum steril
b)      Kapas alkohol dalam tempatnya
c)      Bengkok
d)     Obat insulin
2)      Pasien
Pasien diberikan penjelasan tentang tindakan yang akan dilakukan
3)      Lingkungan
4)      Petugas
b.      Pelaksanaan
1)      Menyingsingkan lengan baju pasien
2)      Mendesinfeksi karet penutup obat insulin
3)      Mengisi semprit dengan insulin sesuai dosisi yang telah ditentukan
4)      Mengeluarkan udara dari dalam semprit
5)      Mendesinfeksi daerah yang akan disuntik
6)      Menyuntik secara subcutan
c.       Hal-hal yang perlu diperhatikan
1)      Dosis dan waktu pemberian obat harus tepat dan dicatat
2)      Observasi perubahan umum keadaan pasien

4.      Merawat luka
a.       Pengertian
Suatu rangkaian kegiatan yang  meliputi membersihkan, mengobati, menutup dan membalut luka
b.      Tujuan
1.      Mencegah terjadinya infeksi
2.      Memberikan rasa nyaman pada pasien
3.      Membantu penyembuhan primer
c.       Indikasi
Semua pasien dengan luka bakar
d.      Persiapan
1.      Alat
a)      Alat steril
1)      Alat pelindung diri (masker, handscoen)
2)      Hecting set
3)      Duk lubang
4)      Sarung tangan
5)      Semprit 2,5 cc, 5 cc
6)      Benang jahit
7)      Kain kasa
b)      Alat tidak steril
1)      Verban
2)      Plester
3)      Gunting verband
4)      Bengkok
5)      Ember
c)      Obat dan cairan
1)      Obat anastesi lokal
2)      H2O2
3)      Alkohol 70 %
4)      Antiseptik
5)      Aquadest
2.      Pasien
a)      Pasien diberi penjelasan tentang tindakan yang akan dilakukan
b)      Posisi pasien diatur sesuai kebutuhan
3.      Lingkungan
4.      Petugas
e.       Pelaksanaan
1.      Petugas menggunakan masker, handscoen
2.      Mengatur posisi pasien sesuai keadaan luka
3.      Memberikan daerah sekitar luka dari kotoran, darah kering sebelum dijahit
4.      Membantu dokter dalam melakukan penjahitan, meliputi :
a)      Mendesinfeksi
b)      Memberikan anastesi lokal
c)      Mencuci luka dengan H2O2 dengan cara menekan secara hati-hati
d)     Membilas luka dengan aquadest
e)      Membuang jaringan nekrotik
f)       Menjahit luka
g)      Membersihkan sekitar luka
5.      Menutup luka dengan kain kasa steril kemudian sekitarnya dibersihkan sampai bersih dan kering.
6.      Memfiksasi kasa dengan plester
7.      Membalut luka dengan verband.
f.       Hal-hal yang perlu diperhatikan :
1.      Observasi keadaan umum pasien selama penjahitan luka
2.      Saru hechting set untuk satu orang pasien
3.      Khusus luka infeksi ditangani dengan prinsip teknik isolasi.
4.      Khusus untuk luka gigitan binatang, luka dicuci dengan sabun dibilas dengan air mengalir dan luka tidak perlu dijahit kecuali luka yang lebar
5.      Hindari balutan terlalu kencang atau terlalu longgar
6.      dilarang keras memberikan anastesi lokal dengan obat anastesi yang mengandung adrenalin untuk daerah sacral (jari, telinga, penis)
5.      Menghentikan perdarahan
a.       Pengertian
Suatu tindakan untuk menghentikan perdarahan baik pada kasus bedah maupun non bedah
b.      Tujuan
Mencegah syok
c.       Indikasi
1.      Perdarahan pada kasus bedah
2.      Perdarahan kasus non bedah
d.      Persiapan
1.      Alat
Alat yang dipersiapkan sesuai dengan teknik yang akan dilaksanakan untuk kasus bedah :
a)      Alat pelindung diri (masker, handscoen, scort)
b)      Balut tekan
c)      Kain kasa steril
d)     Sarung tangan
e)      Tourniquet
f)       Plester
g)      Set untuk menjahit luka
h)      Obat desinfektan
i)        Sanksteken blakemore tube (SB tube) bila memungkinkan
j)        Spuit 20-50 cc
k)      Waskom berisi air/NaCl 0,9 % dingin
l)        Jelly / pelicin
2.      Pasien
Pasien/keluarga diberi penjelasan tentang tujuan dan tindakan yang akan dilakukan
3.      Lingkungan
Tenang
e.       Pelaksanaan tindakan
a)      Petugas menggunakan masker, handscoen, scort
b)      Perawat I
1)      Menekan pembuluh darah proximal dari luka, yang dekat dengan permukaan kulit dengan menggunakan jari tangan (lihat lampiran)
2)      Mengatur posisi dengan cara meninggikan daerah yang luka
c)      Perawat II
1)      Mengatur posisi pasien
2)      Memakai sarung tangan kecil
3)      Meletakkan kain kasa steril di atas luka, kemudian ditekan dengan ujung-ujung jari
4)      Meletakkkan lagi kain kasa steril di atas kain kasa yang pertama, kemudian tekan dengan ujung jari bila perdarah masih berlangsung. Tindakan ini dapat dilakukan secara berulang sesuai kebutuhan tanpa mengangkat kain kasa yang ada.
d)     Balut tekan
1)      Meletakkan kain kasa steril di atas luka
2)      Memasang verband balut tekan, kemudian letakkan benda keras (verband atau kayu balut) di atas luka
3)      Membalut luka dengan menggunakan verband balut tekan.
e)      Memasang tourniquet untuk luka dengan perdarahan hebat dan trumatik amputas
1)      Menutup luka ujung tungkai yang putus (amputasi) dengan menggunakan kain kasa steril
2)      Memasang tourniquet lebih kurang 10 cm sebelah proximal luka, kemudian ikatlah dengan kuat.
3)      Tourniquet harus dilonggarkan setiap 15 menit sekali secara periodik
f)       Memasang SB tube
1)      Menyiapkan peralatan untuk memasang SB tube
2)      Mengatur posisi pasien
3)      Mendampingi dokter selama pemasangan SB tube
4)      Mengobservasi tanda vital pasien
g)      Hal-hal yang perlu diperhatikan pada pemasangan tourniquet dan SB tube :
1)      Pemasangan tourniquet merupakan tindakan terakhir jika tindakan lainnya tidak berhasil. Hanya dilakukan pada keadaan amputasi atau sebagai “live saving”
2)      Selama melakukan tindakan, perhatikan :
a)      Kondisi pasien dan tanda-tanda vital
b)      Ekspresi wajah
c)      Perkembangan pasien
3)      Pemasangan SB tube dilanjutkan dengan pengompresan dan irigasi melalui selang
6.      Memberikan Terapi Inhalasi
a.       Pengertian
Suatu tindakan pemberian obat melalui inhalasi
b.      Tujuan
Untuk melonggarkan jalan nafas
c.       Indikasi
Pasien dengan serangan asthma bronchiale
d.      Persiapan
1)      Alat
a)      Set terapi oksigen lengkap dan siap pakai
b)      Flow meter oksigen tanpa humidifier (kering)
c)      Alat inhalasi (neulator)
d)     Slang oksigen binasal
e)      Semprit 2,5 cc, 5 cc
2)      Obat-obatan dan cairan
a)      Bronchodilator
b)      NaCl 0,9 %
3)      Pasien
a)      Pasien diberi penjelasan tentang tindakan yang akan dilakukan
b)      Posisi pasien diatur fowler/semi fowler
4)      Lingkungan
Bersih dan bebas dari asap
5)      Petugas
e.       Pelaksanaan
a)      Memasukkan obat bronchodilator ke dalam alat inhalasi sesuai program pengobatan
b)      Menyiapkan oksigen tanpa humidifier
c)      Melatih pasien menggunakan alat inhalasi
d)     Cara memegang alat
e)      Cara menghisap obat melalui alat
f)       Menyambung slang oksigen dengan alat inhalasi
g)      Membimbing pasien cara menarik nafas dalam :
1)      Tarik nafas dalam dan isap melalui mulut sampai terlihat asap keluar dari uhung sebelah lainnya kemudian hembuskan
2)      Tarik nafas dilakukan secara berulang sampai obat yang ada di dalam alat habis
h)      Mencatat semua tindakan yang telah dilakukan pada catatan perawatan.
f.       Hal-hal yang perlu diperhatikan
1.      Perubahan pernafasan pasien
2.      Posisi slang oksigen
7.      Menyiapkan pasien dan alat untuk pemeriksaan radiodiagnostik
a.       Pengertian
Suatu keinginan menyiapkan pasien untuk tindakan pemeriksaan radiodiagnostik
b.      Tujuan
1.      Membantu kelancaran tindakan
2.      Mendapat hasil yang akurat
3.      Menyiapkan pasien kooperatif selama pemeriksaan berlangsung
c.       Indikasi
Semua pasien yang membutuhkan tindakan radiodiagnostik
d.      Persiapan
1)      Alat dan obat
a)      Kursi dorong/kereta dorong
b)      Alas brankar dan selimut
c)      Obat-obatan sesuai dengan program
d)     Bengkok, tissue
e)      Formulir permintaan pemeriksaan radiodiagnostik
2)      Pasien
Diberi penjelasan tentang tindakan yang akan dilakukan
3)      Lingkungan
4)      Petugas
Memakai baju khusus sesuai peraturan yang berlaku
e.       Pelaksanaan
1.      Non invasif
a)      USG : puasa atau minum banyak sesuai dengan program pemeriksaan
b)      Radiodiagnostik tanpa kontrasi (foto kepala, foto thorax)
2.      Invasi dengan kontras (uretrosistogram, plyelografi, intravena, CT. Scan dengan kontras, arteriorgrafi)
a)      Pasien puasa
b)      Menandatangani surat izin tindakan medis
c)      Daerah yang akan dilakukan arteriografi dicukur
3.      Mengantar pasien ke ruang pemeriksaan
a)      Pada saat pemeriksaan, perawat mendampingi pasien
b)      Memperhatikan respon pasien
c)      Setelah pemeriksaan, pasien diantar ke tempat semula
4.      Memberikan hasil RO kepada dokter yang merawat dan menyimpan hasil pemeriksaan ke dalam dokumen medik pasien.
f.       Hal-hal yang perlu diperhatikan
1.      Observasi tekanan darah, nadi dan pernafasan
2.      Kemungkinan timbul anaphylaktik syok
3.      Perubahan pasien khususnya pada pasien patah tulang
8.      Menyiapkan pasien dan alat untuk tindakan pemasangan gips pada tulang
a.       Pengertian
Suatu kegiatan untuk menyiapkan peralatan dan pasien yang akan dipasang gips
b.      Tujuan
1.      Fiksasi
2.      Reposisi
3.      Immobilisasi
4.      Penyembuhan tulang sesuai dengan yang diharapkan
c.       Tindakaan
Fraktur tertutup dan terbuka
d.      Persiapan
1)      Alat
a)      Gips dengan jumlah dan ukuran sesuai kebutuhan
b)      Kapas lemak / padding
c)      Ember
d)     Perlak
e)      Verband
2)      Pasien
a)      Pasien diberi penjelasan tentang tindakan yang akan dilakukan agar kooperatif.
b)      Posisi pasien diatur sesuai jenis tindakan
c)      Bila diperlukan pembiusan pasien dipuasakan
d)     Bila diperlukan debridement sebelumnya, pemasangan gips pasien masih dalam pemeriksaan
3)      Lingkungan
4)      Petugas
e.       Pelaksanaan
1.      Memindahkan pasien ke ruang khusus (bila ada) atau di meja operasi
2.      Memasang perlak di bawah daerah yang akan digips
3.      Mengisi embar dengan air secukupnya
4.      Membantu dokter pada saat pemasangan gips :
a)      Mengatur posisi pasien
b)      Mengangkat daerah yang akan dipasang gips dan posisi tersebut dipertahankan selama dilakukan tindakan reposisi
c)      Mengukur daerah yang akan dipasang gips
d)     Memasang gips dengan cara
(1)   Masukkan gulungan vertikal gips ke dalam air
(2)   Biarkan verband gips di dalam air beberapa saat sampai gips mengeluarkan gelembung udara.
(3)   Angkar verband gips dan peras sedikit
(4)   Pemasangan verband gips pada daerah yang fraktur dengan posisi gulungan gips terletak di sebelah luar
(5)   Haluskan gips setelah balutan gips dirasakan sudah cukup
(6)   Atur posisi setelah pemasangan.
e)      Membersihkan daerah di sekitar pemasangan gips
f)       Melakukan observasi terhadap :
(1)   Respon, setelah tindakan/keluhan pasien
(2)   Neuro vaskuler baik (NVB)
g)      Memindahkan pasien dari meja pemasangan gips ke brankar atau kursi dorong
h)      Mencatat seluruh tindakan dalam catatan perawatan.
f.       Hal-hal yang perlu diperhatikan
1.      Pemasangan gips tidak boleh terlalu kencang atau terlalu longgar
2.      Neuro vaskular baik
3.      Segera lapor dokter bila ada reaksi
a)      Rasa sakit pada daerah fraktur
b)      Rasa gatal
c)      Rasa kesemutan
4.      Tanggal pemasangan gips harus ditulis pada gips yang terpasang
5.      Waktu dan tempat berobat selanjutnya.
9.      Menyiapkan pasien dan alat untuk tindakan bronkoskopi
a.       Pengertian
Bronkoskopi adalah suatu tindakan untuk melihat secara langsung trachea dan cabang-cabang bronkus, dengan menggunakan bronkokop, yang dimasukkan ke dalam trachea melalui hidung dan mulut
b.      Tujuan
1)      Sebagai terapi
a)      Mencuci dan mengeluarkan sekret yang kental dari bronkus
b)      Mengeluarkan materi selular dari massa yang ada diluar percabangan bronkus
c)      Mengeluarkan benda asing di saluran pernafasan
2)      Membantu menegakkan diagnosa dengan biopsy


c.       Indikasi
1.      Sputum retensi
2.      Tersangka tumor saluran pernafasan
d.      Persiapan
1)      Alat
a)      Set bronkoskopi  lentur  atau kaku
b)      Lampu untuk bronkoskopi (light source)
c)      Set penghisap sekresi
d)     Sarung tangan
e)      Kain kasa steril dalam tempatnya
f)       Tempat untuk menampung sputum yang diberi cairan desinfektan
g)      Semprit 2,5 cc untuk anastesi
Semprit 5 cc untuk bilas
Set terapi oksigen lengkap
h)      Cairan NaCl 0,9 % hangat untuk membersihkan sekresi
i)        Cairan alkohol 96 % dalam tempatnya untuk pemeriksaan etiologi
j)        Cairan formalin 4 % dalam tempatnya (untuk pemeriksaan patologi)
k)      Kapas lidi
l)        Objek gelas
m)    Kaca laring sesuai ukuran
n)      Lampu kepala
o)      Lampu spiritus
p)      Xylocain jelly
q)      Cairan desinfektan untuk membilas alat bronkoskopi
r)       Mouth pice
2)      Obat
a)      Lidocain
b)      Xylocain
c)      Adrenalin yang sudah dicampur NaCl 0,9 % dalam mangkok kecil dengan perbandingan 1 amp adrenali dengan 20 cc NaCl 0-,9 %
d)     Luminal / valium
e)      Sulfas atropin injeksi
3)      Pasien
a)      Pasien / keluarga diberi penjelasan tentang tuijuan dan tindakan yang akan dilakukan
b)      Pasien / keluarga menandatangani surat izin tindakan
c)      Pasien dipuasakan selama 4 jam sebelum tindakan untuk tindakan “cito” cairan dari lambung dapat diaspirasi dahulu melalui nasogastric tube)
d)     Diberikan premedikasi sesuai dengan program dokter
e)      Observasi tanda-tanda vaital
f)       Pasien dianjurkan kumur-kumur dengan cairan lidocain selama 10 menit (bila pasien sadar tanpa ETT)
g)      Mengatur posisi pasien terlentang datar.
e.       Pelaksanaan
1.      Tindakan bronkoskopi dilakukan oleh dokter
2.      Melakukan “bagging” sebelum dan sesudah tindakan bronkoskopi
3.      Melakukan observasi kardiovaskuler
f.       Hal-hal yang perlu diperhatikan
1.      Tutup kedua mata pasien untuk mengurangi rasa takut.
2.      Puasakan pasien selama 2 jam pasca bronkoskopi, untuk mencegah aspirasi oleh karena refleks menelan yang belum kembali normal akibat obat anastesi

10.  Menyiapkan pasien dan alat untuk pemasangan “Central Venous Pressure” (CVP)
a.       Pengertian
Tindakan penanganan CVP adalah memasukkan kateter CVP, melalui pembuluh darah tepi sehingga ujungnya berada di muara atrium kanan (vena cava superior dan inferior)

b.      Tujuan
Untuk mengetahui tekanan vena sentral dan menilai jumlah cairan dalam tubuh.
c.       Indikasi
1.      Dehidrasi berat (diare berat, luka bakar grade II ke atas dengan luka bakar 50 %)
2.      Hypovolemic shock
3.      Hypervolemic
d.      Persiapan
1)      Alat
a)      Alat steril
(1)   Set CVP terdiri dari :
-       Manometer CVP
-       Kateter CVP
-       Three way stop cock
-       Semprit 20 cc
-       2 buah infuse set
(2)   Duk berlubang
(3)   Kain kasa
(4)   Sarung tangan
b)      Alat tidak steril
(1)   Bengkok
(2)   Plester
(3)   Perlak dan kain pengalas
(4)   Alat pengukur titik nol/water pas
(5)   Standar infus
c)      Obat-obatan
(1)   Novocain/lidocain
(2)   Antiseptik

d)     Cairan desinfektan
(1)   Antiseptik
(2)   Alkohol 70 %
2)      Pasien
Pasien diberi penjelasan tentang tujuan dan tindakan yang akan dilakukan
e.       Pelaksanaan
1.      Menggantung cairan infus pada standar infus
2.      Menempelkan manometer CVP pada standar infus dengan titik nol setinggi jantung
3.      Mendampingi pasien selama pemasangan CVP
4.      Tindakan pemasangan CVP harus oleh dokter
5.      Memantau dokter selama tindakan pemasangan CVP
6.      Menyambung slang CVP dengan kateter CVP yang telah dipasang oleh dokter
7.      Memberi zat desinfektan pada lubang bekas tusukan CVP
8.      Memfiksasi kateter CVP
9.      Menutup bekas tusukan dengan kasa steril
10.  Memasang plester lebar di atas kain kasa sampai tertutup seutuhnya
f.       Hal-hal yang perlu diperhatikan
1.      Observasi
2.      Fiksasi katerter CVP dengan jarak 2 cm dari lubang tusukan
3.      Jangan memberikan obat melalui CVP kecuali dalam keadaan darurat
4.      Gunakan transparan dressing untuk memudahkan pemantauan adanya infeksi dini
5.      Beri tanda tanggal pemasangan pada balutan CVP dan anti balutan 1 x sehari atau bila kotor
6.      Lakukan foto thorax bila diperlukan untuk melihat posisi CVP



11.  Menyiapkan pasian dan alat untuk tindakan intubasi
a.       Pengertian
Memasukkan pipa trakhea ke dalam trakhea melalui hidung/mulut
b.      Tujuan
1.      Membebaskan jalan nafas
2.      Sebagai tindakan awal untuk pemasangan ventilator
3.      Mempertahankan pernafasan secara adekuat pada kegagalan pernafasan
4.      Mengurangi dead space pada patah beberapa tulang iga yang menimbulkan “flail chest” / respirasi paradoxal
c.       Indikasi
1.      Gagal nafas
2.      Retensi sputum
3.      Pemasangan ventilator
4.      Pasien koma
5.      Perdarahan masif di rongga mulut
d.      Persiapan
1)      Alat
a)      Laringoscope lurus dan bengkok berbagai ukuran dalam keadaan siap pakai
b)      Xylocain semprit dan xylocain jelly dalam tempatnya
c)      FTT endotracheal tube/OT dengan berbagai ukuran
d)     Magi forscep
e)      Semprit dan obat premedikasi
f)       Gudel dengan berbagai ukuran
g)      Arteri klem
h)      Cuff inflator (semprit 20 cc)
i)        Stetoscope
j)        Penghisap lendir lengkap dalam keadaan siap pakai
k)      Air viva dan masker oksigen
l)        Sarung tangan steril
m)    Plester dan gunting
n)      Bengkok
o)      Monitor EKG
p)      Alat pembuka mulut
q)      Ventilator lengkap
2)      Pasien
a)      Pasien/keluarga diberi penjelasan tentang tujuan dan tindakan yang akan dilakukan sehingga kooperatif.
b)      Posisi pasien diatur terlentang dengan kepala hyperekstensi
e.       Pelaksanaan
1.      Memasang monitor EKG
2.      Memberikan obat relaxan dan sedative, sesuai dengan program
3.      Menghisap sekresi sebelum dan selama tindakan intubasi berlangsung
4.      Dokter melakukan intubasi
5.      Mengisi balon pipa endotrakheal tube, sesudah dokter melakukan intubasi.
6.      Melakukan pernafasan buatan menggunakan air viva (bagging) sebelum dan sesudah intubasi pada saat dokter melakukan pemeriksaan auskultasi
7.      Memfiksasi ETT diantara bibir atas dan lubang hidung
8.      Memfiksasi ETT di pipi kiri/kanan
f.       Hal-hal yang perlu diperhatikan
1.      Letakkan punggung tangan di atas mulut untuk menilai balon berisi udara dengan cukup
2.      Kempiskan balon secara berkala, minimal tiap 4 jam selama 10 detik untuk mempertahankan sirkulasi trachea.
3.      Ganti ETT, setiap satu minggu/sesuai kondisi pasien
4.      Ubah letak ETT setiap penggantian fiksasi




12.  Membantu dokter tindakan “Water Seal Drainage” (WSD)
a.       Pengertian
WSD adalah pemasangan drainage dari rongga pleura yang dihubungkan dengan pipa khusus ke dalam botol yang berisi air.
b.      Tujuan
Mengeluarkan cairan dan udara dari dalam rongga pleura sehingga paru-paru berkembang kembali secara normal
c.       Indikasi
1.      Hemtothorax
2.      Pneumothorax
3.      Emphyema
4.      Pleural effusion
5.      Pasca thoracotomy
6.      Hemato pneumothorax
d.      Persiapan
1)      Alat
a)      Alat-alat kecil
(1)   Klem pean bengkok besar             : 1 buah
(2)   Klem pean bengkok kecil              : 1 buah
(3)   Klem kocher                                  : 1 buah
(4)   Gagang pisau No. 3                      : 1 buah
(5)   Troicard                                         : 1 buah
(6)   Pincet chirurgis                             : 1 buah
(7)   Needle holder                               : 1 buah
(8)   Gunting benang                            : 1 buah
(9)   Gunting jaringan                           : 1 buah
(10)   Ring tang                                      : 1 buah
(11)   Jarum jahit                                     : 1 buah
(12)   Pipa dada sesuai ukuran yang diperlukan
(13)   Mata pisau no. 11
(14)   Kasa sesuai kebutuhan
(15)   Semprit 10 cc/5 cc
(16)   Benang zyde No. 0 dan No. 1
(17)   Sarung tangan
(18)   Duk lubang
(19)   Botol WSD sudah berisi cairan aquadest dan desinfektan dan diberi tanda.
b)      Alat tidak steril
(1)   Plester
(2)   Gunting balutan
c)      Obat-obatan dan cairan
(1)   Obat lokal anasthesi
(2)   Obat luka
(3)   Cairan desinfektan
2)      Pasien
a)      Pasien/keluarga diberi penjelasan tentang tujuan dan tindakan yang akan dilakukan sehingga kooperatif.
b)      Pasien/keluarga menyetujui dan menandatangani surat izin operasi
e.       Pelaksanaan
1.      Mengatur posisi semi fowler, kedua tangan pasien di atas kepala untuk memudahkan operasi.
2.      Memberikan kasa dan desinfektan (antiseptik) untuk desinfeksi bila operator sudah memakai sarung tangan
3.      Menutup daerah operasi dengan duk lubang
4.      Memberikan obat anastesi lokal kepada dokter
5.      Memberikan pisau bedah kepada operatopr untuk menoreh kulit
6.      Membuat lubang pada sisi dada dengan menggunakan troicard.
7.      Pangkal drain WSD diklem, kemudian ujung drain dimasukkan ke dalam lubang dinding dada yang dibuat dan difiksasi
8.      Pangkal drain disambung ke botol, kemudian klem dibuka
9.      Bekerjasama dengan dokter selama melakukan tindakan pemasangan WSD, sesuai kebutuhan
10.  Mengobservasi tanda-tanda vital :
a)      Tekanan darah, nadi, pernafasan
b)      Undulasi udara dalam botol
c)      Adanya geloimbang udara pada saat batuk dan pernafasan biasa.
f.       Hal-hal yang perlu diperhatikan
1.      Perhatikan pipa WSD jangan sampai tercabut dari dinding dada
2.      Pangkal pipa WSD dalam botol harus selalu berada 2,5 cm di bawah permukaan cairan
3.      Botol jangan sampai terbalik
4.      Lapor segera bila ada tanda-tanda :
a)      Cyanosis
b)      Pernafasan cepat dan dangkal
c)      Perhatikan timbulnya batuk-batuk
5.      Cairan yang keluar :
a)      Warna
b)      Jumlah
c)      Bila botol penuh, slang WSD segera klem dan lapor dokter.
6.      Bila kotor, balutan diganti
13.  Menyiapkan pasien dan alat untuk tindakan kuretage
a.       Pengertian
Adalah kegiatan mempersiapkan alat dan pasien untuk melakukan tindakan kuratage pada kasus kegawatan obstetrik dan ginekologi serta diagnostik
b.      Tujuan
1.      Menegakkan diagnosa dan terapi
2.      Mencegah infeksi
3.      Menghentikan perdarahan
c.       Indikasi
Terapi perdarahan misalnya pada :
1.      Abortus incipiens
2.      Abortus incomplete, rensio plasenta, mola hydotidosa
3.      Diagnsotik
d.      Persiapan
1)      Alat
a)      Alat steril
(1)   Satu set alat kuret yang berisi :
(a)    Speculum sim / I
(b)   Tenaculum
(c)    Pinset anatomis panjang
(d)   Tampon tang
(e)    Sonde uterus
(f)    Abortus tang
(g)   Sendok kuret tajam dan tumpul
(2)   Duk lubang
(3)   Kain kasa
(4)   Sarung tangan
(5)   Semprit 2,5 cc, 5 cc, 10 cc
(6)   Kateter
(7)   Tampon
(8)   Kapas antiseptik
b)      Alat tidak steril
(1)   Bengkok
(2)   Perlak
(3)   Ember/tempat sampah
(4)   Pembalut wanita
(5)   Tempat untuk jaringan PA + cairan pengawet
c)      Obat-obatan
(1)   Uterotonica
(2)   Analgetik
(3)   Sedativa
(4)   Obat anastesi
(5)   Obat dan alat kesehatan untuk mengatasi syok
d)     Cairan desinfektan
e)      Formulir
(1)   Formulir PA
(2)   Formulir tindakan
2)      Pasien
a)      Cukur rambut pubis/bila perlu
b)      Vaginal toilet
c)      Posisi pasien lithotomic
d)     Pasien/keluarga diberi penjelasan tentang tindakan yang akan dilakukan dan menandatangani izin tindakan medik
3)      Lingkungan
a)      Tenang
b)      Cukup tenang
c)      Jaga “privacy” pasien
4)      Petugas
e.       Pelaksanaan
1)      Mengukur :
a)      Tekanan darah
b)     

Sehelum dan sesudah tindakan
Nadi
c)      Suhu
d)     pernafasan
2)      Memindahkan pasien ke meja ginekologi kemudian mengatur posisi litotomi
3)      Membantu dokter untuk tindakan kuret
4)      Memberikan obat-obatan sesuai program
5)      Membersihkan dan merapikan pasien sesudah dilakukan tindakan kuret.
6)      Memasang pembalut wanita
7)      Memindahkan pasien ke kereta dorong
8)      Menyiapkan bahan untuk pemeriksaan PA
9)      Mengobservasi perkembangan pasien antara lain :
a)      Tingkat kesadaran
b)      perdarahan
10)   Memeriksa kelengkapan pengisian formulir tindakan
11)  Mencatat semua tindakan
f.       Hal-hal yang perlu diperhatikan
a)      Observasi adanya perdarahan pasca tindakan.
b)      Pengiriman PA harus dilengkapi :
1)      Formulir yang sudah diisi lengkap oleh dokter
2)      Pasang label pada tempat pemeriksaan PA
(a)    Nama pasien
(b)   Nomor rekam medik
(c)    Diagnosa pasien
(d)   Tanggal pengembalian/pengiriman
(e)    Nama ruangan
14.  Menyiapkan pasien dan alat untuk tindakan pembedahan akut
a.       Pengertian
Suatu kegiatan untuk menyiapkan pasien baik jasmani dan rohani serta peralatan yang akan dipergunakan pada tindakan pembedahan
b.      Tujuan
1.      Menyiapkan pasien agar kooperatif
2.      Mencegah terjadinya infeksi dan komplikasi
3.      Membantu kelancaran pembedahan
c.       Indikasi
Semua kasus gawat darurat yang membutuhkan tindakan pembedahan akut.



d.      Persiapan
1)      Alat
a)      Alat pencukur rambut dan gunting rambut
b)      Bengkok
c)      Sabun
d)     Waslap
e)      Handuk
f)       Alat kesehatan dan obat-obatan sesuai program dokter dan jenis tindakan pembedahan
g)      Baju khusus
h)      Formulir
(1)   Izin operasi
(2)   Permintaan darah ke PMI bila diperlukan
(3)   Pemeriksaan penunjang
2)      Pasien
a)      Pasien/keluarga diberi penjelasan tentang tindakan yang akan dilakukan
b)      Extra mandi bila kotor
c)      Dipuasakan sesuai kasus
d)     Cukur daerah yang akan diopaerasi
e)      Pasang NGT, kateter sesuai program
f)       Pasien/keluarga menyetujui dan menandatangani surat izin operasi
3)      Lingkungan
Tenang
4)      Petugas
e.       Pelaksanaan
1)      Mengocek kelengkapan dokumen medi/perawatan, hasil pemeriksaan penunjang, surat izin operasi
2)      Mengganti baju pasien dan memasang mitella / tutup kepala

3)      Mengukur :
a)      Tensi
b)      Nadi
c)      Suhu
d)     Pernafasan
e)      Tingkat kesadaran
f)       Cairan yang masuk/keluar
4)      Mengecek kelengkapan alat kesehatan dan obat-obatan serta darah  yang diperlukan untuk tindakan pembedahan
5)      Mengantar pasien ke kamar bedah bila perlengkapan, petugas dan kamar bedah siap.
6)      Peralatan dibersihkan, dibereskan dan dikembalikan ke tempat semula
f.       Hal-hal yang perlu diperhatikan
a)      Selama menunggu tindakan pembedahan, lakukan observasi dan catat hasilnya :
(1)   Tanda-tanda vital
(2)   Tingkat kesadaran
(3)   Jumlah cairan yang masuk dan keluar
(4)   Perkembangan pasien
b)      Segera lapor ke dokter bila timbul kelainan
c)      Hindari pasien jatuh
15.  Membilas lambung
a.       Pengertian
Membilas lambung adalah membersihkan lambung dengan cara memasukkan air/cairan tertentu ke dalam lambung dan mengeluarkan kembali dengan menggunakan selang penduga lambung (NGT)
b.      Tujuan
Membersihkan dan mengeluarkan racun/darah dari dalam lambung.


c.       Indikasi
1.      Keracunan obat
2.      keracunan zat kimia
3.      Keracunan makanan
4.      Hematemesis
d.      Persiapan
1)      Alat dan obat
a)      Slang penduga lambung sesuai ukuran yang diperlukan dan corongnya.
b)      Bengkok besar
c)      Perlak dan alasnya
d)     Ember penampung
e)      Air hangat-dingin 1-2 liter / NaCl 0,9 %, sesuai kebutuhan
f)       Gelas ukuran
g)      Celemek dari karet
h)      Gelas berisi air matang
i)        Pelicin / jelly
j)        Set therapy oksigen lengkap dan siap pakai
k)      Pinset anatomi
l)        Obat-obatan (sulfas atropine, norit/susu yang diperlukan dalam tempatnya)
2)      Pasien
a)      Pasien / keluarga diberi penjelasan tentang tindakan yang akan dilakukan
b)      Posisi pasien diatur sesuai kebutuhan (semi fowler)
3)      Lingkungan
4)      Petugas
Perawat memakai celemek karet.
e.       Pelaksanaan
1.      Memasang perlak dan alasnya di dada pasien
2.      Meletakkan bengkok di bawah dagu pasien.
3.      Meletakkan ember yang diberi alas kain pel ke dekat pasien
4.      Menentukan panjang slang penduga yang masuk ke dalam lambung
5.      Memberi pelicin pada ujung penduga lambung
6.      Menutup  pangkal slang penduga  lambung dengan cara menekuk/diklem
7.      Memasukkan slang penduga pelan-pelan ke dalam lambung melalui hidung. Bagi pasien sadar dianjurkan menelan slang penduga perlahan-lahan sambil menarik nafas dalam
8.      Meyakinkan slang penduga masuk ke dalam lambung dengan cara :
- Memasukkan ujung slang penduga sampai terendam dalam mangkok berisi air dan tidak tampak gelembung udara dan air.
9.      Setelah yain slang penduga masuk ke lambung pasien, psosisi diatur miring tanpa bantal dan letak kepala lebih rendah.
10.  Memasang corong pada pangkal slang kemudian masukkan air/cairan. Selanjutnya ditunggu sampai air/cairan tersebut keluar dari lambung dan ditampung dalam ember.
11.  Membilas lambung dilakukan berulang kali sampai air/cairan yang keluar dari lambung berwarna jernih/tidak berbau racun.
12.  Mengobservasi tekanan darah, nadi, pernafasan, dan respons pasien
13.  Mencatat semua tindakan yang telah dilakukan
f.       Hal-hal yang perlu diperhatikan
Cairan yang masuk dan keluar
16.  Prosedur Visum et repertum
a.       Pengertian
Laporan tertulis yang dibuat oleh dokter atas permintaan tertulis dari pihak berwajib mengenai apa yang dilihat atau diperiksa berdasarkan keilmuan yang didasarkan sumpah yang digunakan untuk kepentingan peradilan
b.      Tujuan
Untuk membantu proses peradilan
c.       Indikasi
-       Korban perkosaan
-       Korban penganiyayaan
-       Kecelakaan lalulintas
-       Tindakan kekerasan lain
d.      Persiapan
Adanya surat pengantar dari kepolisian
e.       Pelaksanaan
1.      Dilaksanakan dengan persetujuan tidnak medik dan kesediaan penanggung jawab
2.      Permintaan tertulis dari pihak berwajib
3.      Untuk kepentingan peradilan
4.      Dibuat oleh dokter pemeriksa sesuai dengan indikasi
f.       Hal-hal yang perlu diperhatikan
1.      Kejelasan pengisian keterangan identitas pasien
2.      Kecocokan antara kasus dengan keterangan kepolisian
17.  Penggunaan ventilator
a.       Pengertian
Pemberian ventilasi buata dengan menggunakan alat bantu nafas
b.      Tujuan
1.      Memaksimalkan kemampuan ventilasi pasien
2.      Membantu dalam terapi oksigen
c.       Indikasi
1.      Pasien dengan henti nafas
2.      Pasien dengan pernafasan yang tidak adekuat
d.      Persiapan
-       Alat
1.      Set ventilator
2.      Aqua steril
3.      Oksigen
-       Pasien
1.      Inform consent
2.      Pemberian penjelasan
3.      Pengaturan posisi sesuai dengan kebutuhan
e.       Pelaksanaan
1.      Set ventilator sesuai dengan kebutuhan, sambungkan sirkuit dengan test lung
2.      Sambungkan kabel power ke sumber listrik
3.      Tekan tombol power
4.      Nilai keadekuatan ventilator
5.      Hubungkan tubing ke konektor ETT
f.       Hal-hal yang perlu diperhatikan
1.      Perhatikan kesesuaian jenis ventilator dengan kebutuhan pasien
2.      Seluruh pengesetan ventilator termasuk alarm limit harus dalam keadaan aman
3.      Catat respon selama dan sesudah pemakaian ventilator
18.  DC Shock
a.       Pengertian
Memberikan tindakan arus listrik searah pada otot jantung melalui dinding dada dengan menggunakan defibrillator
b.      Tujuan
Menghilangkan aritmia ventrikel yang spesifik pada henti jantung dan kelainan organic jantung lainnya.
c.       Indikasi
1.      Ventrikel fibrilasi
2.      Ventrikel tachicardi
d.      Persiapan
-       Alat
1.      Defibrilator
2.      Jelly
3.      Elektroda
4.      Obat-obat sedasi bila perlu (dormikum, atau analgesic lainnya)
-       Pasien
1.      Inform consent
2.      Penjelasan prosedur yang akan dilakukan
3.      Posisi pasien tidur terlentang datar
-       Petugas
2 orang
e.       Pelaksanaan
1.      Memberikan sedative, atau analgesic  bila perlu
2.      Memasang elektrode dan menyalakan EKG monitor
3.      Cek ulang gambaran EKG dan print gambaran EKG tersebut untuk mencegah kekeliruan
4.      Set kebutuhan joule sesuai indikasi (untuk defibrilasi mulai dengan 150 joule untuk cardioversi mulai dengan 50 joule)
5.      Pegang peddic 1 dengan tangan kiri, letakkan pada daerah mid sternumk dan paddle 2 dengan tangan kanan pada daerah mid aksila
6.      Sambil mengatur letak kedua paddle, beri aba-aba agar staff yang lain tidak ada yang menyentuh pasien ataupun bad pasien
7.      Bila terdengar tanda ready dan mesin defibrilator, tekan tombol DC shock dengan jempol agar arus masuk dengan baik.
8.      Amati EKG monitor, bila tidak ada perubahan lanjutkan dengan memberi watt second yang lebih tinggi
9.      Bila gambaran EKG sudah sinus dan stabil, hentikan tindakan.
f.       Hal-hal yang perlu diperhatikan
1.      Bila terjadi asistole, lakukan segera tindakan RJP
2.      Tindakan-tindakan DC shock dihentikan bilamana tidak ada respon
3.      Setiap perubahan gambaran EKG harus di print




19.  Pemberian MgSO4
a.       Pengertian
Merupakan tindakan pemberian MgSO4 yang diberikan pada pasien-pasien IGD yang membutuhkan
b.      Tujuan
Mengurangi dampak lebih buruk pada ibu dan bayi dari serangan kejang eklamsia
c.       Indikasi
1.      Pasien dengan pre eklampsia
2.      Pasien dengan ancaman eklamsia
3.      Eklamsia
d.      Persiapan
1.      Obat MgSO4 40 % dan 20 %
2.      Cairan infus D5 W
3.      Infus set
4.      Spuit 10 cc
e.       Penatalaksanaan
  1. Tentukan dengan pasti bahwa pasien yang akan mendapatkan MgSO4 sesuai dengan indikasi
  2. Berikan MgSO4 2 gr bolus dalam 10 menit, encerkan MgSO4 dgn NaCl 0,9 %.
  3. Berikan 12 gr MgSO4 dalam 500 cc dext 5 % sebanyak 28 tts/mnt sampai stabil
  4. Bila terjadi kejang berulang berikan Diazepam 10 mg
  5. Kolaborasi dengan tim medis untuk penanganan selanjutnya.
  6. Bila terjadi tanda-tanda keracunan seperti paralysis total, depresi pernafasan dan atau hipotensi berikan anti dotum : Ca. Gluconas 10 % sebnyak 10 cc IV selama 3 menit
f.       Hal-hal yang perlu diperhatikan
1.      Di dalam pemberian MgSO4 produksi urine harus cukup
2.      Awasi tanda-tanda vital dan kesadaran.

1 komentar:

  1. Thanks info untuk masalah pemakaian sarung tangan

    BalasHapus