Senin, 28 Februari 2011

Perawatan Pasien Tenggelam

 TENGGELAM
1.      Patofisiologi
Setiap tahun antara 4000 dan 5000 orang mati tenggelam di Amerika Serikat, dan jumlah yang hampir mati tenggelam diperkirakan tiga sampai empat kali lipat dari jumlah mati tenggelam. Mati tenggelam didefenisikan sebagai kematian karena asfiksia akibat tenggelam atau dalam 24 jam tenggelam. Hampir mati tenggelam terjadi bila anak bertahan lebih dari 24 jam setelah tenggelam, tanpa memperhitungkan hasil akhirnya. Mati tenggelam sekunder merujuk pada kasus-kasus yang berhasil diresusitasi tetapi kemudian mati dalam waktu lebih dari 24 jam setelah tenggelam karena disfungsi paru progresif.
Kejadian fisiologis yang terjadi setelah tenggelam adalah berurutan. Setelah pada awalnya panic dan berjuang, korban akan menahan napasnya, dan beberapa orang akan menelan sejumlah kecil air, muntah, kemudian mengaspirasi muntahan. Selanjutnya terjadi laringospasme, yang mengarah pada hipoksia, yang mengakibatkan henti jantung dan relaksasi jalan napas sehingga paru-paru memungkinkan untuk terisi oleh sejumlah besar air (mati tenggelam basah). Tanpa memerhatikan apakah korban mengaspirasi air, hipoksia merupakan konsekuensi fisiologis yang paling penting untuk cedera tenggelam dan memengaruhi seluruh system organ.
Tenggelam juga mengakibatkan hipotermia. Area permukaan tubuh anak yang relative luas mengarah pada suatu penurunan suhu tubuh yang relative cepat bila anak berada pada air dingin. Hipotermia berat pada anak yang lebih muda dapat melindungi otak bila reflex menyelam terjadi, yang mengakibatkan bradikardia dan pengaliran darah jauh dari perifer dan dengan demikian meningkatkan sirkulasi serebral dan koroner.
Prognosis dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti lamanya tenggelam, tingkat hipotermia, respons fisiologis dari korban, dan lamanya waktu sampai diberikan resusitasi jantung – paru yang efektif. Kerusakan otak ireversibel biasanya terjadi setelah 4 sampai 6 menit tenggelam, tetapi beberapa anak mengalami pemulihan penuh setelah periode waktu lebih lama (10 sampai 30 menit) pada air yang sangat dingin. Morbiditas dan kematian berkaitan langsung dengan derajat kerusakan neural.
2.      Insidens
a.       Tenggelam adalah penyebab kematian utama kedua karena kecelakaan pada anak-anak
b.      Anak prasekolah dan remaja memiliki risiko tertinggi mati tenggelam dan hampir mati tenggelam
c.       40% korban berusia kurang dari 4 tahun
d.      Laki-laki lima kali lipat lebih banyak kemungkinannya untuk mati tenggelam daripada perempuan.
e.       Insidens tertinggi terjadi selama bulan-bulan musim panas, di akhir minggu, dan diantara jam 4 dan jam 6 sore.
f.       Sebagian besar mati tenggelam terjadi di kolam renang rumah.
g.      Anak-anak yang lebih muda paling sering mati tenggelam di kolam renang, bathtub, hot tub, toilet, dan di ember.
h.      Anak yang lebih tua paling sering mati tenggelam di danau, sungai, dan di laut saat berperahu atau menyelam, atau ada kaitannya dengan ingesti alcohol.
3.      Manifestasi klinis
Manifestasi klinis berhubungan langsung dengan derajat cedera dan tingkat kesadaran setelah pertolongan dan resusitasi.
a.       Gawat pernapasan – berkisar dari pernapasan yang cepat dan dangkal sampai apnea
b.      Sianosis
c.       Sputum berbusa dan merah muda
d.      Edema paru
e.       Lunglai
f.       Postur tubuh deserebrasi atau dekortikasi
g.      Koma
h.      Kejang
i.        Syok
j.        Abnormalitas gas darah arteri
k.      Pemeriksaan foto toraks abnormal
l.        Disritmia
m.    Asidosis metabolic
n.      Hiperkalemia
o.      Hiperglikemia
p.      Hipotermia.
4.      Komplikasi
a.       Ensefalopati hipoksik
b.      Tenggelam sekunder
c.       Pneumonia aspirasi
d.      Fibrosis interstisial pulmonal
e.       Disritmia ventricular
f.       Gagal ginjal
g.      DIC (koagulasi intravascular diseminata)
h.      Nekrosis pancreas
i.        Infeksi
5.      Uji laboratorium dan diagnostic
a.       Pemeriksaan foto toraks – temuan bervariasi (dari infiltrate parenkim tersebar sampai edema pulmonal luas
b.      Nilai gas darah arteri – untuk mendeteksi asidosis respiratorik dan asidosis metabolic
c.       CT scan
d.      Elektroensefalogram – untuk mengkaji aktivitas kejang dan membuktikan adanya kematian otak.
e.       Hitung darah lengkap, hematokrit, hemoglobin – untuk menentukan derajat hemodilusi atau hemokonsentrasi dan perlunya resusitasi cairan.
f.       Kadar nitrogen urea darah – untuk menentukan fungsi ginjal
g.      Klirens kreatinin – untuk menentukan fungsi ginjal
h.      Kultur dan sensitivitas darah – untuk mendeteksi adanya infeksi pernapasan yang tumpang tindih.
6.      Penatalaksanaan medis
Bantuan hidup dasar dan lanjutan yang agresif di tempat kejadian merupakan hal yang sangat penting karena beratnya cedera pada system saraf pusat tidak dapat dikaji secara akurat pada saat pertolongan diberikan. Pastikan keadekuatan jalan napas, pernapasan, dan sirkulasi sebagai prioritas teratas. Cedera lain juga harus dipertimbangkan, dan perlu tidaknya hospitalisasi ditentukan berdasarkan keparahan kejadian dan evaluasi klinis. Pasien dengan gejala respirasi, penurunan saturasi oksigen, dan perubahan tingkat kesadaran perlu dihospitalisasi. Prioritas perhatian harus terus difokuskan pada oksigenasi, ventilasi, dan fungsi jantung. Perlindungan system saraf pusat dan pengurangan edema serebri merupakan intervensi yang sangat penting dan berhubungan langsung dengan hasil.
Penanganan yang dilakukan meliputi terapi oksigen aliran tinggi dan tekanan akhir ekspirasi positif untuk mendapatkan oksigenasi yang adekuat, dan pemberian larutan kristaloid untuk resusitasi cairan, dopamine dan dobutamin untuk terapi jantung, furosemid (Lasix) untuk dieresis, dan manitol (Mannitor) untuk mengendalikan hipertensi intracranial dan untuk sedasi.
7.      Pengkajian keperawatan
a.       Kaji adanya respirasi spontan
b.      Kaji status kardiovaskuler
c.       Kaji suhu inti tubuh
d.      Kaji tingkat kesadaran
8.      Diagnosis keperawatan
a.       Gangguan pertukaran gas
b.      Perubahan perfusi jaringan otak
c.       Penurunan curah jantung
d.      Kelebihan volume cairan
e.       Hipotermia
f.       Ketidakseimbangan nutrisi; kurang dari kebutuhan tubuh
g.      Perubahan proses keluarga
9.      Intervensi keperawatan
1)      Pantau system pernapasan
a.       Kaji status pernapasan, meliputi bunyi napas dan kerja napas
b.      Pertahankan kepatenan jalan napas
c.       Lakukan pengisapan jalan napas bila diperlukan
d.      Masukkan slang nasogastrik untuk mencegah aspirasi
e.       Pantau terapi oksigen
f.       Pantau kadar oksigen
2)      Pantau system kardiovaskular
a.       Kaji status kardiovaskular, meliputi tanda-tanda vital, perfusi, suhu dan warna kulit, dan haluaran urine.
b.      Pantau jalur cairan dan upaya resusitasi cairan
3)      Pantau dan catat tingkat fungsi neurologis anak
a.       Lakukan pengkajian neurologis (frekuensinya tergantung pada status)
b.      Observasi dan catat tanda-tanda TIK (letargi, peningkatan tekanan darah, penurunan frekuensi napas, peningkatan denyut apeks, pupil dilatasi).
c.       Cegah peningkatan TIK dengan mengatur posisi kepala di garis tengah, meninggikan bagian kepala tempat tidur 30 derajat, dan mencegah atau mengatasi  peningkatan suhu tubuh.
4)      Pantau dan pertahankan keseimbangan cairan
a.       Catat asupan dan haluaran
b.      Jaga kepatenan dan lakukan perawatan kateter Foley
c.       Pertahankan cairan sesuai program
d.      Observasi tanda dan gejala perubahan keseimbangan cairan, meliputi melakukan uji laboratorium.
5)      Pantau dan pertahankan pengaturan suhu homeostatis
a.       Pantau suhu
b.      Mulai lakukan dan lanjutkan teknik menghangatkan kembali, meliputi penggunaan lampu penghangat, kasur penghangat, dan cairan intravena hangat
c.       Cek perfusi kulit
6)      Berikan dan pertahankan asupan nutrisi yang adekuat
a.       Kaji status nutrisi
b.      Kaji kapasitas anak untuk mentoleransi makanan melalui slang nasogastrik atau per oral (pantau berat badan, cek residu dan muntah)
c.       Jika diprogramkan nutrisi parenteral total, pantau penginfusannya, efek samping, dan hasil kimia darah.
7)      Berikan dukungan emosional dan lainnya kepada keluarga
a.       Berikan jaminan yang menenangkan dan laporan kemajuan yang realistis tentang status klien, termasuk harapan
b.      Penuhi kebutuhan fisik keluarga seperti privasi dan akses ke kamar mandi dan telepon, dan identifikasi anggota staf untuk melakukan kontak dengan pertanyaan.
c.       Jelaskan semua tindakan.
d.      Izinkan orang tua dan anggota keluarga untuk berada bersama anak jika memungkinkan.
10.  Perencanaan pulang dan perawatan di rumah
a.       Ajarkan orang tua untuk melakukan langkah-langkah pencegahan berikut : belajar melakukan resusitasi jantung-paru; pelajaran keamanan di air dan berenang bagi anak; halaman yang aman dari potensi kecelakaan (mis., menutup kolam); dan pengawasan tepat selama memakai kolam renang.
b.      Ajarkan orang tua berkaitan dengan tingkat perkembangan anak dan isu-isu keamanan.
c.       Ajarkan keluarga untuk melakukan perawatan tindak lanjut.
11.  Hasil yang diharapkan
a.       Klien kembali ke tingkat fungsi neurologis optimal
b.      Distres pernapasan berkurang atau hilang sama sekali
c.       Klien mempertahankan perfusi yang adekuat dan tanda-tanda vital berada dalam batas-batas normal.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar